Belajar Memaafkan

Di sebuah pagi yang agak kesiangan. Aku terburu-buru keluar dari kamar mandi. Kreek…kubuka pintu kamar mandi. Kakak yang sedari tadi bersungut-sungut mengantri pun tak buang tempo, segera masuk ke kamar mandi. Belum sempat pintu ditutup, terdengar dari kamar mandi kakak merepet tak henti-hentinya.

Kakak : Hei, biasa ! sudah kubilang berkali-kali, haram bagi siapapun meninggalkan baju kotor di kamar mandi ! kau kemanakan telingamu ? bau baju kotormu ini bisa membius orang di kamar mandi !

Ampun ! aku yang pelupa, lagi-lagi harus menelan sajian pahit pagi-pagi. Kakak yang satu ini memang sangat disiplin menjaga kebersihan, kerapian dan kenyamanan kamar mandi. Segala bentuk tindakan yang mengganggu kenyamanan dalam kamar mandi, pasti ia lawan. Tak kecuali aku, sang adik yang sudah berkali-kali melakukan kelalaian meninggalkan baju kotor di kapstok kamar mandi [eh, bukannya karena ndableg si…tapi emang pelupa] tak akan ia biarkan keluar dari kamar mandi dengan tenang dan bahagia.

Aku hanya diam menyesali perbuatanku. Kenapa aku tidak berusaha mengingat-ingat untuk selalu membawa baju kotorku ke keranjang pakaian? Tentu kakakku tak perlu merepet sedemikian.

Di tengah penyesalanku, tiba-tiba datanglah bulek. Oh…terima kasih ya Allah, kau datangkan manusia bijaksana ini di tengah situasi yang membuatku tiba-tiba merasa menjadi kurcaci.

Bulek : Heehhh…anak perawan pagi-pagi ribut, rebutan apa si ?

Kakak : itu tuh biasa….ndableg! sudah dibilangin berkali-kali, baju kotor itu tempatnya di keranjang, masih saja nyampah di kamar mandi.

Bulek mendekatiku : memangnya seberapa kilo kalori energimu terbakar, untuk membawa empat potong baju kotormu dari kapstok kamar mandi ke keranjang pakaian, yang jaraknya hanya empat meter ?! [e e e e ….sok ilmiah ni, bulek]

Aku : bukan masalah ndableg nya bulek, mengertilah…aku ini hanya pelupa…. [hihi…memelas.com]

Bulek : Hmmm…ya sudahlah. Kakak, kamu ini yang gede juga harus ngemong adikmu dong, Kak. Manusia kalau mau hidup di dunia ini, harus mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kalau tak mau memaafkan, hidup saja di hutan.

Kalau kamu bangun kesiangan, siapa yang menggantikan tugasmu mencuci piring? Adikmu ini…… Belajarlah memaafkan kesalahan adikmu, dia saja mau memaafkan kesalahanmu. Bahkan dia tidak sadar dirinya dibuat repot karena kelalaianmu…..

[ihhirr….aku pun merasa terbela]

Ehem ehem….sepertinya kakak dapat menerima penjelasan bulek. Dan seperti biasa, manakala dia merasa kalah, dia akan segera mengalihkan tema pembicaraan.

Kakak : Bulek, katanya mau minta di antar beli rak piring? Jadi hari ini?

Hihihi….pelajaran hidup bijaksana, saling memaafkan. Di pagi yang cerah….

19 tanggapan untuk “Belajar Memaafkan”

  1. Siang Mba aryna..
    Waaah.. itu ada kemungkinan sifat anak pertama yang suka bawel sendiri, seperti agy😀 dan ya, saling memaafkan itu memang indah ya mba ya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s